Google

Senin, 11 Juli 2011

PRESIDEN KETUJUH REPUBLIK PHILIPPINA ALUMNI JOSE RIZAL UNIVERSITY

RAMON F. MAGSAYSAY
1953-1957
Sikat na Presidenteng Pinoy
KONTRIBUTOR ANDI THAHIR:
Ramón del Fierro Magsaysay adalah Presiden ketiga Republik Filipina ia lahir di Iba, Zambales pada 31 Agustus 1907.  pada tahun 1928 ia melanjutkan studinya di Institute of Commerce di Jose Rizal Collage, pada tahun 1932 dia menerima gelar Sarjana Muda dalam Perdaganga.
Reformasi Agraria oleh Magsaysay
Untuk memperkuat dan menstabilkan fungsi Korps Pembangunan Ekonomi (EDCOR), Presiden Magsaysay bekerja untuk pembentukan Pemukiman Kembali Rehabilitasi Nasional dan Administrasi (Narra). Badan ini mengambil alih dari EDCOR dan membantu dalam memberikan beberapa enam puluh lima ribu hektar sampai tiga ribu keluarga miskin untuk keperluan pemukiman.  Sekali lagi, dialokasikan sekitar dua puluh lima ribu untuk lainnya sedikit lebih dari seribu lima ratus keluarga tak bertanah, yang kemudian menjadi petani.
Sebagai bantuan lebih lanjut kepada orang-orang pedesaan, Presiden Didirikan Kredit Koperasi Pertanian dan Administrasi (ACCFA). Idenya adalah untuk entitas untuk membuat kredit pedesaan yang tersedia. Catatan menunjukkan bahwa hal itu hibah, dalam hal ini, bijaksana hampir sepuluh juta dolar. Hal ini badan administrasi berikutnya memberikan perhatian kepada pemasaran koperasi.
Seiring baris ini membantu untuk daerah pedesaan, Presiden Magsaysay dimulai pada kesungguhan semua sumur artesis kampanye. Sebuah kelompok-gerakan yang dikenal sebagai Liberty Wells Asosiasi dibentuk dan dalam waktu singkat berhasil mengumpulkan jumlah yang besar untuk pembangunan sumur artesis sebagai sebanyak mungkin. Nilai sosio-ekonomi yang sama tidak dapat disangkal dan orang-orang sedalam dalam rasa syukur mereka.
Akhirnya, proyek irigasi besar, serta peningkatan tanaman Daya Ambuklao dan yang serupa lainnya, pergi sepanjang jalan menuju membawa ke realitas program perbaikan yang dianjurkan oleh Presiden pedesaan Magsaysay.
Presiden Ramon Magsaysay diberlakukan undang-undang berikut sebagai bagian dari Program Pembaruan Agraria nya:
  • Republik UU No 1160 dari 1954-Dihapus di LASEDECO dan mendirikan Pemukiman Nasional dan Administrasi Rehabilitasi (Narra) untuk memukimkan kembali para pembangkang dan petani tak bertanah. Itu terutama ditujukan pada pemberontak kembali menyediakan banyak rumah dan lahan pertanian di Palawan dan Mindanao.
  • UU No Republik 1199 (Tenancy UU Pertanian 1954) – diatur hubungan antara pemilik tanah dan petani penyewa dengan menyelenggarakan berbagi-sewa dan sistem prasarana. Hukum memberikan keamanan kepemilikan penyewa. Hal ini juga menciptakan Pengadilan Hubungan Agraria.
  • UU No Republik 1400 (Tanah Undang-Undang Reformasi 1955) – Dibuat Administrasi Kepemilikan Lahan (LTA) yang bertanggung jawab untuk akuisisi dan distribusi beras disewakan besar dan tanah lebih dari 200 hektar jagung untuk individu dan 600 hektar untuk perusahaan.
  • Republik UU No 821 (Penciptaan Administrasi Kredit Pembiayaan Koperasi Pertanian) – Disediakan petani kecil dan penyewa berbagi pinjaman dengan bunga rendah dari enam sampai delapan persen.
TAMBAHAN :

Nama Ramon Magsaysay melegenda bukan dikarenakan peristiwa naas yang menimpanya, malam 17 Maret 1957. Kecelakaan pesawat di Cebu itu sekaligus membawa kematiaannya. Namun kematian itu tak membuat kisah heroik dan kebijakan-kebijakannya hilang ditelan waktu.
Ramon Magsaysay yang mempunyai darah campuran Melayu, Cina dan Spanyol ini lahir di Iba, ibu kota Provinsi Zambales, 31 Agustus 1907. Kelahirannya dikabarkan tidak sebaik keadaan bayi-bayi lain. Begitu yang dituturkan bidan Lola Ihay kepada ibunya, Perfecta Magsaysay. Tengkorak Ramon Magsaysay tidak sempurna, lebih lunak, bahkan ada cekungan pada ubun-ubunnya. Bidan sendiri memprediksikan bahwa Ramon Magsaysay tidak dapat bertahan lama. Namun keteguhan hati Perfecta dalam merawat anaknya akhirnya, Ramon Magsaysay dapat mempertahankan hidupnya dan kemudian mengukir nama besarnya pada dunia.
46 tahun kemudian, Ramon Magsaysay terpilih menjadi Presiden ketiga Filipina. Ia menang telak terhadap Elpidio Quirino, Presiden Filipina sebelumnya. Padahal, Ramon Magsaysay sendiri adalah bagian dari kabinet Quirino yang menjabat sebagai Menteri Petahanan, namun kharismanya sanggup menarik simpati rakyat Filipina. Ia sanggup mengalahkan Quirino hampir di semua provinsi. Dalam pemilihan, Ramon Magsaysay memperoleh 2,9 juta suara, sedangkan Quirino hanya mengumpulkan 1,3 juta suara.
Keberhasilannya menduduki jabatan presiden tak lepas dari usaha Carlos Romulo, seorang intelektual yang pada awalnya ingin ikut mengambil kesempatan bertanding pada pemilihan presiden. Namun melihat kharisma kepemimpinan pesaingnya, ia mengurungkan keinginannya dan kemudian berbalik mendukung Ramon Magsaysay.
Bisa jadi ini adalah pemerintahan terbesar Filipina, hingga saat ini. Pemerintahan Ramon Magsaysay yang propublik serta memprioritaskan pengentasan kemiskinan membawa Filipina kepada kharisma politik yang baik di era pemerintahannya. Dia telah berhasil mengubah pola pikir petani agar tidak lagi menjadi mainan tikus politik dan komunis.
Era pemerintahan Ramon Magsaysay merupakan masa di mana dunia timur sedang dipengaruhi oleh komunis. RRC, Uni Soviet, dan Indonesia menjadi basis kedudukan terkuat bagi komunis. Tapi ia adalah sosok anti komunis. Bahkan sebagai pemimpin di daerah Asia Tenggara saat itu, keberaniannya untuk mendukung politik luar negri Amerika Serikat dalam melawan komunis patut diacungi jempol. Gerakan Hukbalahap (Hukbo ng Bayan Laban sa Hapon yang berarti ''Tentara Rakyat Anti-Jepang'') yang pada akhirnya dikuasai kaum komunis Filipina berhasil ditumpasnya. Kendati masih meninggalkan sisa, namun sebuah pencapaian luar biasa saat itu.
Pemerintahan Quirino yang dilanjutkan menitipkan banyak permasalahan masyarakat. Perekonomian yang masih memprihatikan, perpolitikan dalam negara masih kacau, ditambah angin komunis yang bisa kapan saja membalikkan masyarakat untuk melakukan pertentangan karena himpitan kehidupan. Tapi Ramon Magsaysay sendiri memahami bahwa kesejahteraan merupakan kunci utama untuk menghindari hempuran sosial dari komunis.
Pemerintahan propublik, promassa, dan perpolitikan yang bersih yang dijalankannya membawa namanya menjadi Presiden Rakyat. Sebutan ini dikokohkan oleh seorang penulis biografi, Manuel F. Martinez dalam bukunya yang berjudul: Magsaysay The People's President. Dalam buku itu dituliskan beberapa kekuatan dan kelemahan dalam pemerintahannya. Kelemahan Ramon Magsaysay yang diceritakan buku ini adalah sikap ketus dan ‘pelit’ akan fasilitas-fasilitas kepada familinya. Tapi ini menunjukkan nepotisme di negara itu telah dipangkas oleh Ramon Magsaysay bahkan dari dirinya sendiri.
Caranya dalam memerintah telah memberikan tata kelola pemerintahan yang baik, sekalipun berbagai bentuk perlawanan pernah bergejolak pada masa pemerintahannya. Dia menunjukkan bahwa pemerintahan yang baik itu dapat ditegakkan hanya dengan ketegasan dan kelembutan. Salah satu ucapannya yang banyak dikutip orang: “Saya akan penjarakan ayah sayasendiri jika melanggar hukum."
Kewibawaannya dalam memimpin menginspirasi berbagai kalangan. Sebuah program dari RMAF (Ramon Magsaysay Award Foundation), yayasan yang memberikan penghargaan terhadap perseorangan atau lembaga di Asia yang telah mengaplikasikan enam gagasan Ramon dalam berbagai bidang: pelayanan pemerintahan, jurnalisme-sastra-seni-komunikasi kreatif, kepemimpinan komunitas, pelayanan publik, kepemimpinan heroik dalam situasi berbahaya (emergent leadership), perdamaian dan pengertian internasional. Penghargaan ini bahkan telah menjelma layaknya ‘nobel’ dalam lingkupan Asia. (*Dedet Pratama Dinata/berbagai sumber) (
http://kababarito.blogspot.com/2008/11/magsaysay-peoples-president.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar